Rabu, 18 Januari 2012

...Godly Man Revealed...


Fasten your seatbelt.. Karena kalian akan memasuki suatu petualangan yang seru tentang GODLY MAN. Kalian akan menerima sesuatu yang mungkin beberapa dari temen-temen belum pernah mendengar sebelumnya. Mungkin akan akan ada perbedaan pendapat, opini dan juga persepsi. Akan ada banyak hal baru yang akan temen-temen terima melalui tulisan ini, yang aku harap akan memberkati temen-temen dan memperlengkapi kalian. Untuk para wanita, ini akan membantu kalian untuk menemukan Godly Man kalian, dan untuk yang pria, ini akan membantu kalian untuk menjadi Godly Man. Selamat membaca ya... Enjoy your reading...

Let Man be a Man
Nah..sebelum aku masuk pada jawaban ku, aku ingin memberikan sedikit gambaran, latar belakang dan juga persepsi yang berbeda kepada temen-temen. Aku tergerak untuk menulis tentang Godly Man ini karena belakangan ini sangat banyak dibicarakan tentang Godly Man..Dan aku perhatiin, mostly yang membicarakan ini adalah para cw. Ga ada yang salah dengan itu, justru aku sangat-sangat senang.

Para wanita sudah mulai menyadari dan mulai membenahi tentang kriteria pria yang akan mereka pilih nantinya..hehehe.. Mengapa aku bilang seperti itu? Karena dari banyak wanita yang aku kenal, dari banyak wanita yang juga konsultasi ke aku, jarang sekali aku temui mereka membuat kriteria untuk mencari seorang Godly Man. Kalau di tanya, rata-rata jawabannya, “Yang baik, sayang ama aku, perhatian ama aku dan sejenisnya” Yah..sesuatu yang sangat standart dan mengambang menurutku..heheh.. So, merupakan suatu yang menggembirakan ketika para wanita mulai membicarakan tentang Godly Man.

Sudah beberapa lama aku mengikuti pembicaraan tentang Godly Man ini. Namun kemudian aku menemukan sesuatu yang sangat krusial dalam pembahasan Godly Man ini. Aku menemukan kembali kita stuck dan juga terhenti pada sesuatu yang sangat general dan tidak aplikatif. Kita berhenti pada suatu pengertian yang diawang-awang dan tidak membumi.

Bahkan ada beberapa wanita yang mulai menetapkan seperti apakah Godly Man itu sesuai dengan standartnya sendiri. Bahkan ga sedikit wanita yang akhirnya kecewa dengan standart yang sudah di tetapkannya sendiri, dan akhirnya  menuntut pihak pria untuk melakukan sesuatu sesuai dengan standart sang wanita untuk Godly Man.

Ada juga para wanita yang menetapkan standart yang terlalu tinggi dari yang seharusnya untuk Godly Man, sehingga akhirnya juga merasa kecewa dan merasa kalau Godly Man itu udah tidak ada lagi di dunia ini..hehehe..

Yang cw-cw, jangan merasa tersinggung ya.. Aku bukan sedang menyerang kalian. Aku sedang membantu kalian untuk melihat kenyataannya. Dan buat cwo-cwo, jangan senang dulu, giliran kalian sebentar lagi..hehehe..

Ok, mungkin kalian bingung, maksudnya apa dengan para cw menetapkan sendiri standart Godly Man? Trs maksudnya standart yang terlalu tinggi itu apa? Aku akan kasih beberap contoh kasus yang aku temui ya.. 

Kasus 1
Sebut saja namanya Ani. Ani adalah seorang cw yang sangat mendambakan seorang Godly Man untuk jadi pasangan hidupnya. Dalam pikirannya seorang yang Godly Man adalah seseorang yang “Holy”, yang setiap hari ngomongin firman, trs ga pemarah, lemah lembut, dan juga yg mengajak dia berdoa setiap kali ketemu. Pokoknya dia punya standar yang sangat tinggi yang dia buat sendiri tentang Godly Man.

Suatu kali dia bertemu dengan seorang cwo di gerejanya. Cwo ini adalah seorang pemimpin komsel. Sudah beberapa bulan, Ani memperhatikan tingkah laku, perkataan, kelakuan dari cwo ini. Sebutlah namanya Ricky. Ani sengaja ikut komsel dimana Ricky berada. Berdasarkan observasi beberapa bulan dan pdkt, Ani akhirnya yakin klo Ricky adalah Godly Man yang dia cari dan ternyata gayung pun bersambut. Ricky ternyata juga ada rasa dengan Ani. Singkat cerita mereka pun pacaran.

Setelah 3 bulan, Ani pun mulai merasa kalau Ricky bukanlah seorang Godly Man yang dia cari. Mereka mulai sering berantem, dan akhirnya Ani ingin memutuskan hubungannya dengan Ricky. Selidik punya selidik, ini yang Ani ceritakan alasan mengapa dia ingin putus.

“Gw pikir Ricky seorang yang rohani..rupanya dia sama aja dengan cwo-cwo lainnya, munafik dan muka dua. Di gereja doang dia “holy”, setelah keluar gereja, dia sama aja kyk cwo-cwo lain. Ricky itu ga pernah mentingin gw..dia lbh mentingin hobby modif motornya dibandingkan gw. Kalau dah ngumpul-ngumpul ama temen-temennya, sms ga pernah bls, tlp ga pernah diangkat. Kalau gw ngambek karena dia lbh mentingin hobinya, dia marah ama gw. Gw dicuekin klo dia lg kumpul ama temen-temennya.

Sejak gw jadian ama dia, dia sama sekali ga pernah bahas firman Tuhan ama gw.. Dia ga pernah ngajakin gw doa bareng. Dia ga pernah ngajakin gw pergi ke KKR mana gt, seminar mana gt yang bahas tentang pendalaman Alkitab. Yang dia omongin soal kerjaannya lah, soal motornya lah”

Kasus 2
Herin adalah seseorang yang radikal akan Tuhan. Dia adalah guru sekolah minggu, dia juga aktif di pelayanan. Herin masih jomblo dan berniat untuk mencari seorang cwo sebagai pasagan hidupnya. Herin ingin pasangannya nanti adalah seorang yang Godly Man. Nah, suatu kali Herin tertarik dengan seorang WL di gerejanya, katakanlah namanya William.

Orangnya cakep, selalu ngomongin Firman, ramah, kyknya ga pernah marah, pokoknya “holy” bgt dah.. Singkat cerita akhirnya William juga suka ama Herin, dan mereka pacaran. Ga lama setelah mereka pacaran, hal yg sama menimpa Herin. Dia mengalami kekecewaan yang besar terhadap William.

Berikut ceritanya Herin ttg William,
“William sepintas kalau dilihat, dia orgnya baik, sopan, perkataannya manis, ramah, tetapi kalau sudah di luar gereja, dia kyk org gila.. Dia kasar bgt orangnya, suka mukul gw..suka ngeluarin kata-kata kotor kalau lagi marah ama gw.. Dia juga orgnya posesif bgt.. gw dah ga tahan lg ama dia”

Nah..apa yang bisa kita pelajari dari 2 kasus td? And btw yang aku tulis ini bukan kasus rekaan atau rekayasa lho.. It’s really happen, cuman nama dan beberapa hal aku modif untuk melindungi kepentingan client..hahaha.. Tetapi inti ceritanya tetep sama. Pada kasus kedua kasus td, kita melihat bahwa yang cw punya standart yang sangat tinggi yang berdasarkan pengertian dan kemauan mereka sendiri soal Godly Man.

Pada kasus pertama bagaimana kita melihat Ani menganggap Godly Man itu sebagai seorang cwo yang sangat-sangat kudus, rohani, ngomongin Firman mulu, selalu ada di dekat dia, ga pernah marah, selalu ngajakin doa bareng, ngajakin KKR dimana-mana dll. Selidik punya selidik pun, ternyata ni cw ga pernah baca alkitab, jd dia mengharapkan si cwo yang share Firman Tuhan ama dia. Ni cw jarang berdoa, so dia mengharapkan cwo nya ngajakin dia doa bareng terus.

Pada kasus kedua, kita melihat bahwa Herin salah dalam menilai Godly Man = Rajin Pelayanan. Tidak ada hubungan, korelasinya antara Godly Man dengan dia seorang WL, dia pemain musik, bahkan seorang pengkhotbah sekalipun. Banyaknya pelayanan, aktifitas rohani yang diikuti seseorang, tidak membuat orang tersebut otomatis menjadi seorang Godly Man. Trs apakah seorang jemaat biasa, yang tidak pelayanan di gereja, dia bukan Godly Man?

So, hari ini, lewat notes ini, aku ingin ajak temen-temen sekalian untuk memiliki pengertian yang benar tentang Godly Man. Ada banyak wanita yang akhirnya kecewa dengan standart yang dia buat sendiri untuk Godly Man. Dan parahnya, para wanita tidak berusaha untuk menjadi Godly Woman terlebih dahulu, namun memaksakan pasangannya untuk menjadi Godly Man.

That’s why ada banyak para pria yang “alergi” dengan para wanita yang banyak kegiatan di gereja, aktifitas rohani, karena para wanita tersebut berusaha menjadikan para pria, menjadi Godly Man sesuai dengan keinginan mereka. Bahkan, lebih parahnya mereka mencoba menyabotase dan mengambil alih fungsi pria sebagai mana seharusnya dengan alasan untuk menjadikan para pria sebagai Godly Man. 

Kita terperangkap dengan pemikiran bahwa Godly Man adalah pria yang kerjanya berdoa mulu, bawa-bawa alkitab, muka selalu senyum, selalu gembira, kemana-mana ngomongin Tuhan, melayani di sana sini, menolong sana sini. Akhirnya kita mulai mengubah Godly Man menjadi seseorang yang Perfect Man, and the bad news is, there is no perfect man.

Mengapa kita tidak banyak menemukan Godly Man di generasi ini. Hanya ada dua jawabannya. Pertama kita memiliki kriteria dan standart yang salah soal Godly Man, dan kedua, kita sendiri yang membuat para pria tidak mau menjadi Godly Man. Kita terlalu banyak menuntut para pria untuk melakukan yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan.

David Murrow, dalam bukunya “Why Men Hate Going to Church” dan John Eldredge dalam bukunya “Wild at Heart: Discovering the secret of a Man’s Soul” menyimpulkan satu hal yang sama mengapa sedikit Godly Man di generasi ini.

Karena kita telah menyakiti hati para pria dengan memaksa kan mereka untuk menjadi Godly Man seperti yang kita inginkan, bahkan kasarannya, kita membuat pria memaksa pria menjadi Goldy Man seperti yang wanita inginkan. Kita tidak membuat mereka menjadi Godly Man seperti yang Tuhan inginkan. That’s why ada banyak buku tentang pria dan wanita. Semua buku tersebut, intinya cuman satu. Mereka cuman ingin memberitahu kita bahwa pria dan wanita diciptakan berbeda. Pria dan wanita punya kebutuhan yang berbeda-beda, punya cara yang berbeda, cara berpikir yang berbeda dan bahkan cara menyenangkan Tuhan yang berbeda.

Aku kasih contoh yang simple aja. Ini salah satu kutipan dari e-book yang akan aku launching tahun ini yang berjudul “The Rise of Knights, Heroes & Gentleman”

“Terkadang kita tidak mengerti kelakuan dari seorang ayah yang kelihatannya tidak perduli dengan anak laki-lakinya. Misalnya, seorang anak laki-laki mengalami sesuatu masalah, dan ibunya cerita kepada ayahnya, kemudian dengan santainya sang ayah berkata “Ah..tidak apa-apa, kamu terlalu khawatir Ma, tidak perlu dibesar-besarkan.” Sekilas terdengar seperti seorang ayah yang tidak perduli dengan masalah anaknya, namun yang terjadi adalah sang ayah percaya bahwa anaknya dapat menyelesaikan persoalannya.

Atau ketika seorang anak laki-laki yang jatuh dari sepeda, sang ibu pasti langsung dengan berlari mendatangi anaknya, menenangkan anaknya dan bilang, “ya udah, bsk ga usah lg naik sepeda..bahaya” Tetapi kalau sang ayah, dia jalan santai, mengangkat anaknya, membersihkan lukanya, dan bilang, “udah..ga pa2..bsk coba lagi, bsk pasti bisa”

Believe me, keesokan harinya kira-kira nasihat mana yang akan diikuti sang anak laki-laki? Aku yakin bsk dia sudah ada di jalanan mencoba sepedanya. Aku tidak bilang nasihat ibu itu ga penting..sama sekali bukan.. tetapi dalam hal ini, ayah, sebagai seorang laki-laki mengerti bagaimana memperlakukan seorang laki-laki juga.
So, let man be a man. 



Godly Man = Jesus’ Standard
Nah, setelah kita bahas panjang lebar tentang latar belakang dan juga alasan mengapa aku menuliskan ini, maka sekarang kita kembali kepada pokok permasalahan tentang seperti apa sich Godly Man itu? Dari banyak jawaban temen-temen, aku coba urutkan 3 jawaban terbanyak. Jawaban terbanyak pertama adalah Takut akan Tuhan, kedua adalah Memiliki Karakter & Pikiran Kristus, ketiga adalah mengasihi dan mencintai Tuhan. Well,,sama sekali tidak ada yang salah dengan jawaban tersebut, bahkan pada kenyataannya, itu semuanya benar sekali. Dan untk mengetahui lebh jelasnya soal ketiga hal ini, aku rekomendasikan temen-temen untuk baca Tulisan K Shinta yang berjudul di sini. http://www.shintapoulsen.com/2011/10/mencari-ayah-untuk-anak2ku-done.html

Namun ada satu jawaban dari temen-temen yang cukup membuat aku berpikir cukup lama. Setelah dia ksh tau seperti apa sich Godly Man itu menurutnya, diakhir kalimat dia menambahkan begini, “tetapi yang gw tuliskan ini juga bisa untuk Godly Woman sich”.

Dari kalimat tersebut, aku mulai tersadar dan mulai cek lagi semua jawaban temen-temen, dan aku menemukan bahwa semua jawaban temen-temen untuk Godly Man bisa juga dipakai untuk Godly Woman. Bicara buah roh, karakter, dll. Dan aku mulai berpikir, berarti ga ada bedanya dong Godly Man dan Godly Woman? Trs apa yang membedakan? Kalau bicara soal cinta Tuhan, mengasihi Tuhan, itu mah bukan cwo doang..cw juga harus seperti itu. Sampai akhirnya aku menerima pewahyuan ini temen-temen.

So, apa yang akan aku tulis ini akan menjawab pertanyaan “Dari mana kita tau dia PRIA yang takut Tuhan, mengasihi Tuhan?”

Pada tulisan ku ini, aku ingin mengajak temen-temen untuk melihat detail, untuk mulai membumi, untuk mulai melihat dengan jelas, seperti apa pria yang Takut akan Tuhan, Memiliki Karakter & Pikiran Kristus, dan yang mengasihi Tuhan itu. Dan ini berlaku spesifik untuk PRIA, and this is the hard part. Kita akan mulai masuk pada rancangan awal Tuhan tentang Pria, kita mulai lihat blueprint Tuhan soal Pria.

Kalau dibilang Godly Man, maka panutan kita adalah Yesus. Tetapi ketika kita ditanya, Yesus itu seperti apa, kira-kira apa yang ada di dalam pikiran kita? Dia itu lemah lembut, sabar, penyayang, baik, penyembuh, dll. Well, ga ada yang salah dengan itu. Namun apabila kita hanya mengerti Yesus sebatas itu, maka kita sedang melihat pribadi Yesus dari satu sisi saja.

David Murrow, mengadakan suatu tes sederhana untuk melihat bagaimana pemahaman kita tentang Yesus.

Tesnya adalah dia menuliskan 2 Kelompok sifat.
Kelompok 1 
- competence (kompetensi)
- power (kekuatan)
- efficiency (efisiensi)
- achievement (pencapaian)
- skills (kemampuan)
- result (hasil)
- accomplishment (penuntasan)
- objective (sasaran)
- goal oriented (orientasi ke tujuan)
- self-sufficiency (mencukupi diri)
- Success (sukses)
- Competition (kompetisi)
- Admiration (pengaguman)

Kelompok 2 
- Love (cinta/ kasih)
- Communication (komunikasi)
- beauty (keindahan)
- relationship (relasi)
- support (dukungan)
- help (bantuan)
- nurturing (mengayomi)
- Feelings (perasan)
- Sharing (berbagi)
- harmony (keharmonisan)
- community (komunitas)
- loving cooperation (kerjasama penuh cinta)
- personal expression (ungkapan pribadi) 
- Understanding (pengertian)
- caring (peduli)

Dari kedua kelompok itu, dia membuat pertanyaan yaitu, “mana dari kedua daftar tersebut yang memuat nilai-nilai Yesus dan murid-muridNya?

Dia melakukan tes kepada 10.000 orang, dan menemukan hasil yang mengejutkan.. sekitar 85-90% orang menjawab Kelompok 2 lebih menggambarkan Yesus dan murid-muridNya dibandingkan kelompok 1.

Dan kesimpulannya adalah, sebenarnya kita tidak terlalu mengenal Yesus secara utuh. Kita hanya melihat Dia dari satu sudut pandang, dan bahkan dalam hasil penelitiannya tersebut, Murrow mengatakan kita akhirnya memandang Yesus sebagai pria yang feminis, dan bukan maskulin. Kita memandang Yesus sebagai pria lemah, yang baik, yang tidak bisa menghadapi kerasnya jaman sekarang, dan akhirnya pria memandang Yesus bukanlah sebagai pria yang patut diteladani.

Tahukah temen-temen bahwa semua sifat-sifat yang di kelompok 1 itu juga Yesus banget? Apakah kalian pernah menyadarinya? Apakah kalian para pria pernah menyadarinya? Tahukah kalian bahwa Yesus itu pria perkasa? Tahukah kalian bahwa Yesus itu lbh dari sekedar pria manis yang kulitnya halus, lembut, seperti yang tergambar dalam foto-foto? He is beyond that..!

Let me explain sedikit soal ini.. Tahukah kalian bahwa menurut penelitian, jika ada orang lain yang siksa seperti Yesus di siksa, maka org tersebut akan mati bahkan sebelum di salib. But the fact is Dia menyelesaikan hidupNya di kayu salib. Dia mampu menerima siksaan yang org lain ga bisa terima. Itu menunjukkan Dia perkasa..itu menunjukkan Dia layak menerima predikat pria sejati. Ada banyak hal lagi tentang ini yang akan aku bahas dalam e-book ku nanti ttg pria, namun hari ini kita akan melihat apa sich pengertian Godly Man menurut standartnya Yesus sebagai Godly Man? 

Godly Man Reveal



1. Man of Vision
Ketika ditanya, Godly Man itu seperti apa? Simpel.. The first one, He is the man who knows what His vision in his life is. Godly Man adalah pria yang tau siapa dirinya dan tau mengapa dia ada di dunia ini. Godly Man adalah pria yang mengerti dengan jelas, dan detail, apa yang Tuhan ingin dia lakukan di dunia ini. Apa tujuan hidupnya, mau jadi apa dia, kemana dia akan membawa hidupnya.

Godly Man bukan dilihat ketika dia berada di atas mimbar, ketika dia sedang angkat tangan, ketika dia sedang bernyanyi, ketika dia sedang berdoa, atau bahkan ketika dia sedang berkhotbah sekalipun. Godly Man, dapat dilihat dari whether he knows what is the vision in his life or not.

Tahukah temen-temen bahwa The Greatest Treasure that God gives to a man is vision. Jika kita berpatokan pada Yesus sebagai pria, maka Dia pria yang tahu untuk apa Dia datang ke dunia, apa yang harus dikerjakanNya, mengapa Dia harus mengerjakannya, dan how to do His work. Dia adalah pria yang tahu persis akan apa yang dia harus lakukan di dunia ini.

Aku sempet menulis di notes ku bahwa ada suatu survey yang dilakukan di salah satu media online, dan dia meriset tentang “8 Tanda Pria Punya Masa Depan Cerah” Dan temen-temen tau ga, apa tanda no 1 yang dihasilkan dari riset itu? No 1 tandanya adalah PUNYA TUJUAN HIDUP..PUNYA VISI..! 

Wow...dunia aja tahu hal ini..but you guys..para pria..do you know about this? Engkau boleh pelayanan hebat, engkau boleh jadi pengkhotbah hebat, engkau boleh jd WL yang luar biasa, engkau boleh ikutin semua kegiatan rohani yang bisa kalian ikuti, namun ketika pertanyaan ini datang kepada mu, “what is your vision? What is your purpose? Where will you going?” and you can’t answer that, sorry to say, you are not Godly Man.

Banyaknya pelayanan mu tidak menjadikan mu Godly Man. Ada banyak pelayan Tuhan yang aku jumpai, melayani agar dapet duit, melayani karena di market place ga bisa apa-apa trs jad full timer di gereja. Aku menjumpai ada banyak aktivis rohani yang punya segudang pelayanan, namun ketika ditanya, “What is your purpose? Apa tujuan hidupmu? Mau kemana kau bawa hidup ini?” dan dengan rohaninya menjawab “Mengalir aja dalam hidup ini”

Tahukah temen-temen apa yang pertama kali Tuhan berikan kepada Adam, setelah dia diciptakan? Vision...!! Kejadian 1:28 berkata, ”Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

My question, apakah mereka pada saat itu sudah beranak cucu? Apakah pada saat itu mereka sudah berkuasa atas ikan, burung dan segala binatang? Not yet.. But that’s vision. Vision is given before everything happen. Setiap pria hebat di dalam alkitab, sebelum melakukan perkara-perkara yang besar, mereka menerima visi terlebih dahulu dari Tuhan.

No wonder engkau blm melakukan apa-apa bagi generasi ini. No wonder engkau tidak berdampak apa-apa buat generasi ini. No wonder para pria “mandul” hari-hari ini, no wonder kita para pria “terbelakang” dibandingkan para wanita hari-hari ini, no wonder kita para pria seolah-olah tidak lagi menunjukkan kemampuannya hari-hari ini.

No wonder  banyak pria yang bermain-main dengan hidupnya, no wonder byk pria yang memandang rendah hidupnya, no wonder banyak pria yang sembarangan dengan hidupnya.. Semua karena engkau tidak mengetahui apa yang menjadi visi hidupmu..tujuan hidupmu. Engkau belum menerima dan belum mengetahui apa yang menjadi visi mu di dalam hidup. Dan parahnya engkau bahkan belum bertanya pada Tuhan, untuk tujuan apa engkau ada di dunia ini..

Aku tidak sedang berbicara tentang tujuan hidup secara general, seperti menyenangkan Tuhan, menyembah Tuhan, memuji Tuhan dll. I’m talking about specific purpose, specific vision, that God has put in you personally.

Do you know guys, setiap hal yang kita lihat di dalam dunia ini, semuanya bermula dari visi. Apa yang membuat para tokoh-tokoh jaman dulu bisa mengubah dunia ini? Apa yang membuat mereka bisa berdampak buat generasi ini? Semua hanya dimulai dari satu kata, yaitu Visi. 

Karena visilah maka Marthin Luther King memperjuangkan hak orang kulit hitam, karena visilah maka Thomas Alfa Edison menemukan bola lampu, karena visilah makanya Wright Bersaudara menemukan pesawat terbang, karena visilah makanya manusia bisa menginjakkan kaki di bulan, karena visilah makanya ada mobil Honda hari ini, bahkan karena visi seorang Soekarno lah, makanya ada negara yang bernama Indonesia.

So, para pria, jika pertanyaan ini datang pada mu hari ini? Apakah yang menjadi jawabmu? Sudah bisakah engkau menjawabnya?

Aku tidak bosan-bosan mengatakan kepada para pria, “Mencari visi mu, tujuan hidupmu, lbh penting daripada mencari wanita..!!

Adam, menerima dan menemukan visinya terlebih dahulu, baru Tuhan berikan Hawa. Mencari pacar, mencari cw, it’s not your number 1 priority..!! Itu bukan tujuan hidup mu hanya sekedar cari cw, cari pacar..!! But find you purpose and vision first…!! And then…setelah kalian bisa mencari tau tujuan hidup kalian, visi kalian, dan kalian mengerjakannya, Tuhan akan bawakan wanita itu pada mu, dan kalian bisa bilang, “This is my vision…come, follow me..be with me Honey to work this vision, help me to get there…”

Ladies, harusnya itu menjadi kalimat teromantis yang pernah diucapkan pria, yang kalian dengar dalam hidup mu..dibandingkan sekedar kata “I love you”.

Mengapa pria butuh tau apa yang menjd tujuan hidupnya? Why the man need vision? Simple. Dikatakan bahwa pernikahan adalah bahtera rumah tangga dan pria adalah kapten kapalnya. Nah, can you imagine, seorg kapten kapal yg ga tau ke mana dia harus berlayar?? Can you imagine that? No wonder banyak hubungan pacaran bahkan pernikahan kandas ditengah jalan..krn pria tidak memiliki tujuan hidup. Pria tidak tau apa yg menjadi visi nya dalam hidup ini.

Para pria..Find your vision.. Without vision, you just like pengembara yang mengembara tanpa tujuan. Listen to me para pria..you will never found your completeness, fullness in God, without the vision from God.  

Dalam setiap manusia, ada rasa kehampaan, kekosongan yang hanya bisa diisi oleh Tuhan. Bagi seorang wanita, kekosongan itulah "Love", dan bagi seorg pria, kekosongan itu adlh "Vision, purpose & Destiny".

Mengapa seorang yang punya visi dikatakan Godly Man, karena visi adalah bukti keintiman dan kedekatan mu dengan Tuhan. Visi adalah bukti bahwa engkau melekat kepadaNya, sehingga Dia memberitahukan kepada Mu ttg apa yang menjadi isi hatiNya pada mu..Dia menceritakan kepada mu mengapa Dia mengutus engkau untuk ada pada zaman ini, pada waktu ini dan pada generasi ini. Visi adalah bukti bahwa engkau mengasihi Tuhan, sehingga engkau akan melakukan, dan mengerjakan apa yang menjadi tujuan mu di dalam hidup ini.

Jika engkau mengasihi Tuhan, maka engkau sangat rindu untuk tahu apa yang menjadi isi hati Tuhan, engkau sangat rindu untuk melakukan apa yang menjadi kerinduanNya dalam hidupmu. Dan itu adalah visi.

Visi adalah bukti bahwa engkau sangat mengasihi Dia dan tidak ingin mengecewakanNya. Engkau tidak ingin menyia-nyiakan waktu mu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna, engkau akan mengejar dan melakukan visi mu, karena engkau sangat mengasihi Dia.

Aku percaya, bahwa dalam diri setiap pria, Tuhan taruhkan sesuatu hasrat untuk mencapai sesuatu, untuk melakukan sesuatu, untuk mengubah sesuatu, untuk berjuang demi sesuatu, untuk membuktikan sesuatu. Dan bukan tanpa alasan, maka kita, pria memiliki hormon Testosteron yang banyak dalam tubuh kita, yang hanya sedikit dimiliki wanita. Tahukah temen-temen bahwa itu adalah alat, yang sengaja Tuhan taruhkan untuk membantu kita mencapai visi yang dia taruhkan dalam hati kita.

Aku bukan mengatakan bahwa wanita tidak butuh visi, wanita tidak menerima visi, tetapi someday, visi wanita, ketika dia menikah, akan melebur dengan visi suaminya, karena dalam keluarga, tidak bisa ada dua pemimpin..dan kapal, tidak bisa ada dua kapten dan dua arah yang berbeda. Tugas prialah yang menentukan mau dibawa kemana keluarganya, mau dibawa kemana masa depan hubungannya, mau dibawa kemana pernikahannya. 

So, ladies..listen to this.. Bagaimana engkau tahu seorang pria adalah Godly Man? Ketika km suka dengan seseorg, dan punya kesempatan berkenalan dan ngobrol-ngobrol dengan pria tersebut dan ingin mengenal pria tersebut lbh jauh, the first question yg harus kalian tanyakan adalah, what is your visión?”“What is your purpose in this life?”. Aku ga peduli sehebat apa pelayanannya, sebanyak apa kegiatan rohaninya, semuanya akan sia-sia jika dia tidak tau apa yang menjadi tujuan hidupnya secara spesifik.

Kenali apa yang menjadi visi dari calon pasangan mu. Ketika pun engkau sedang pacaran, jangan habiskan waktu mu hanya untuk nonton berduaan, sekedar makan bersama, tp habiskan waktu mu untuk cari tau apa yang menjadi visi Tuhan dalam hidupnya. Believe me, ketika engkau mendengarkan apa yang menjadi visinya, engkau akan terkagum-kagum akan Tuhan atas hidupnya dan akan mengerti mengapa dia layak disebut sebagai Godly Man.

Doakan, aku juga sedang merancang, suatu tulisan,  cd audio dan juga seminar ttg visi, juga bagaimana cara mengetahui apa yang menjadi visi kalian, apakah itu visi atau ambisi, apakah itu visi dari Tuhan atau tidak. Karena kita sedang berada di generasi yang tanpa tujuan, tanpa visi. Dalam Kisah Rasul 13:36 dikatakan, “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya” Ini yang menjadi kerinduan ku, setiap pria di generasi ini, melakukan kehendak Tuhan, mengerjakan visinya pada zaman ini, pada generasi ini. 

2. Man of Work
Ada satu hal yang menarik yang aku perhatikan ketika dua orang pria dewasa bertemu..ntah itu baru pertama kali bertemu, atau sudah saling kenal tetapi lama tidak berjumpa. Ketika bertemu, pertama-tama pasti nanya kabar, atau kalau belum saling kenal, ya kenalan nama. Kemudian hampir di setiap kali perkenalan, pertanyaan ini selalu muncul kedua, yaitu soal pekerjaan. Ntah itu nanya “kerja dimana sekarang?” atau “Gimana kerjaan?” atau “ kerjaannya apa?”

Hal yang sangat berbeda akan kita jumpai ketika dua wanita bertemu. Setelah kenalan, maka jarang sekali yang ditanyakan adalah pekerjaan. Yang ditanya kabar si anu, ditanya si A sudah punya anak apa belum, dll. Pokoknya sesuatu yang lebih bersifat relation. Meskipun wanita yang bekerja, sangat jarang sekali membahas pekerjaan dengan sesama wanita ketika mereka di luar jam kantor. Kalaupun ada yang dibicarakan soal pekerjaan, itu bukan murni pekerjaan, melainkan ngomongin soal bosnya, soal temennya, sekertarisnya bos dll.. hehehe.. Bnr ga ni yang cw2 yg sudah bekerja?

Nah, ketika aku menyadari hal ini, aku mulai bertanya, mengapa yang kata “pekerjaan”, “kerja” , “job” itu sangat erat kaitannya dengan pria. Dan bahkan pria secara psikologi mengidentifiaksi dirinya dengan pekerjaan yang mereka “sandang”.  Hal ini terkadang banyak membuat para wanita frustasi, seolah-olah yang dipikiran pria hanya kerja dan kerja. Namun, teryata bekerja adalah design awal, rancangan awal Tuhan untuk para pria. Bekerja, adalah sesuatu salah satu perintah Tuhan kepada Adam. Tuhan memerintahkan Adam untuk bekerja, mengusahakan taman EDEN.. Bekerja bukanlah kutukan buat pria, tetapi adalah keharusan.. Perintah bekerja datang sebelum manusia jatuh dalam dosa.

So artinya pria bekerja bukan karena dosa, tetapi karena emang itu yang Tuhan mau, bahkan paulus berkata, jika seseorg tidak bekerja, jgn dia makan. So para pria, ketika memang sudah waktumu bekerja, bekerja lah..!! Bahkan bekerja telah diberikan kepada adam sebelum adam bertemu dengan hawa.. So WORK BEFORE WOMAN..!

Bekerja sudah menjadi suatu “benih” yang Tuhan tanamkan dalam setiap pria. That’s why kita bisa melihat bahwa ada banyak pria yang stress, membunuh, menganiaya istri dan anak, adalah para pria yang tidak bekerja, pengangguran.
Deep inside mereka, ada kekosongan yang hanya bisa diisi dengan bekerja. Namun karena mereka tidak menemukan pekerjaan, mereka jd stress dan banyak yang bunuh diri. Pada banyak kasus ditemukan bahwa pria lbh stress ketika tidak bekerja dibandingankan wanita. Sedangkan wanita lebih banyak stress ketika bekerja dibandingkan pria. 

Nah, terus apakah kalau belum bekerja (masih sekolah atau kuliah) artinya belum Godly Man? Aku ingin luruskan bahwa menjadi Godly Man adalah suatu proses yang panjang. Bukan sesuatu yang instant. So, meskipun kalian belum bekerja karena masih sekolah dan kuliah, namun kalian harus memiliki visi dan juga pemikiran untuk bekerja.

Dalam notes ku yang lainnya, aku menuliskan salah satu kriteria utk tau kapan waktu yang tepat utk memulai hubungan dengan lawan jenis, adalah ketika engkau sudah bekerja..!! Ladies,,jgn pernah menjalin hubungan cinta dengan pria yang belum bekerja..! Krn dia sendiripun masih dibiayai keluarganya, dan ketika kalian berpacaran engkau hanya akan menjadi beban baginya dan keluarganya..!

Ketika seorang pria bekerja, itu akan menunjukkan besarnya tanggung jawab yg bisa sang pria tersebut hadapi, itu akan menunjukkan bahwa pria tersebut bener-bener mempersiapkan masa depan mereka dengan pasangan kalian.

Nah, I’m going a little bit deeper now..
Ketika kalian mendengar kata “bekerja” jangan langsung berpikiran bahwa itu adalah kerja kantoran. Bekerja disini maksudnya adalah kita mengeksekusi apa yang menjadi visi kita sebelumnya (di point 1). Dewasa ini, kita menyempitkan pengertian “bekerja” dengan kalau di kantoran, itu lah bekerja.

Kita bingung antara “job” dengan “work”. Bahkan seorang pakar Human Resource, Rene Suhardono menuliskan sebuah buku yang berjudul “Your Job is Not Your Career” yang menegaskan bahwa ada perbedaan yang besar antara job dengan career. Menariknya, ternyata buku manual kita sudah terlebih dahulu menyatakan perbedaan tersebut, namun kita menyadarinya dan tidak pernah mau menggalinya untuk mengetahui apa maksud dan rancangan Tuhan dalam bekerja.

Nah, kata “bekerja”, “mengusahakan” dalam buku manual kita berasal dari kata “eregon” yang memiliki beberapa arti.

Arti pertama adalah “to become” (untuk menjadi).
Arti kedua adalah to manifest”  (untuk memanifestasikan).
Arti ketiga adalah “to fulfil”  (untuk memenuhi)
Arti keempat adalah "to reveal"  (untuk membuka, mengungkapkan)
Arti kelima adalah to become yourself”  (untuk menjadi diri sendiri)

Dengan kata lain, kata bekerja atau “eregon” memiliki arti “to discover and to become what you created to be through self manisfestation”  (mencari tau, menggali, menemukan dan menjadi seperti apa engkau diciptakan melalui manifestasi atau pembuktian diri)

Wow... This is something yang tidak pernah diajarkan kepada kita. Kita diajarkan bekerja adalah sesuatu yang kita lakukan. That’s why kita bisa dipecat. That’s why buku manual kita tidak menggunakan kata “job” tp “work”. What the different?

These are the different:

“Job” is what they pay you to do, “work” is what you born to do.
“Job” is your skill; “work” is your gift
“Job”, they can fired you from, but your “work”, they can't touch
“Job”, you can retire of it, but the “work”, you can't retire of it. Coz your work is your gift.

Nah, ketika Tuhan menyuruh Adam untuk bekerja, mengusahakan taman Eden, Tuhan sedang menyatakan “Be come”. Artinya yang dia kerjakan adalah sesuatu yang memang Tuhan rancangankan untuk dia kerjakan.

Kita dibangku kuliah, diajarkan, disipkan, dididik untuk menjadi orang-orang yang siap kerja, namun kita tidak diajarkan apakah arti yang sebenarnya dari bekerja. That’s why mengapa seorang pria yang bekerja, yang mengerti apa arti bekerja yang sesungguhnya, itulah yang disebut sebagai Godly Man.

Bekerja adalah menjadi seperti apa yang telah Tuhan rancangankan ketika engkau diciptakan di rahim ibumu. Bekerja adalah bentuk perpanjangan tangan Tuhan di muka bumi melalui manusia. Bekerja adalah suatu bentuk di mana kita mengerjakan apa yang menjadi tujuan dan visi kita yang tuhan taruhkan di dunia ini. Bekerja adalah menumbuhkan benih visi, impian dan cita-cita yang telah Tuhan taruhkan sehingga menjadi kenyataan dan berbuah.

Ilustrasinya begini, ketika di tangan kita ada benih pohon apel. Ketika kita perintahkan benih itu untuk bekerja, maka sebenarnya kita sedang memerintahkan dia untuk menjadi pohon apel yang menghasilkan banyak buah apel. Kita tidak bisa menyuruh benih apel untuk tumbuh menjadi pohon durian, atau rambutan. That is work. 

So, ketika seorang pria tau apa yang menjadi visinya, namun tidk mengerjakan visinya, tidak memperjuangkan visinya, tidak merealisasikan visinya, bahkan membawa mati visinya, sorry to say, you are not Godly Man!

Mungkin ini terdengarnya kasar, atau men-judge. But I’m not judging you..aku sedang tidak menghakimi kalian, para pria. Tetapi aku sedang meng-encourage kalian untuk berani mengambil sikap dan tindakan untuk merealisasikan apa yang Tuhan taruhkan dalam hidup kalian.

Bekerja seharusnya adalah sesuatu yang yang engkau kandung, sesuatu yang engkau bawa ke dunia ini, yang harus engkau keluarkan, engkau realisasikan untuk generasi ini.

That’s why no one can fire you form your work..! Karena mereka tidak bisa menghalangi engkau menjadi apa yang seharusnya engkau jadi.

That’s why mengapa para pria jaman sekarang tidak lagi banyak menghasilkan sesuatu yang luar biasa untuk generasi ini, karena mereka stag, terperangkap dalam “job” and not do their “work”.

Saat ini ada banyak pria yang frustasi karena mereka mendefenisikan “bekerja” menjadi “job”. Bekerja bukan lagi menjadi bentuk self manifestation, tetapi menjadi bentuk sekedar mencari uang untuk bertahan hidup. Bekerja bukan lagi menjadi bentuk manifestasi dari visi, tetapi menjadi suatu “liturgi” bahwa setelah kuliah ya bekerja.

Kita diajarkan bahwa tujuan bekerja adalah mencari uang, that’s why kita ga kaya-kaya. That’s why negara kita tidak makmur, karena para prianya tidak mengerti dan tidak mengerjakan “work” mereka dalam hidup ini.

Aku banyak mengikuti seminar-seminar tentang menjadi kesuksesan dll. Semua seminar itu berkata, kalau mau sukses jadi kaya jadilah pengusaha properti, kalau mau jadi kaya, jadilah pegusaha dibidang saham. Mereka semua mengajarkan bahwa untuk jadi sukses, uang harus mengejar kita  bukan kita yang mengejar uang. Tetapi setelah mengikuti banyak seminar, maka aku menemukan sesuatu yang sangat krusial, sesuatu yang merupakan inti dari semua seminar yg ada. 

Aku kasih gambaran logikanya seperti ini. Untuk menjadi sukses, berkelimpahan, maka uang harus mengejar kita bukan sebaliknya. Nah, bagaimana agar uang yang mengejar kita? Simpel.. Do your work..! Do what you do born to do.

Kerjakan setiap visi, impian, harapan Ilahi yang Dia taruhkan dalam hidupmu, and then..believe me..kekayaan, kesuksesan, uang akan mengikutimu. Kita bekerja bukan untuk mencari uang, tetapi untuk memanifestasikan benih yang sudah Tuhan taruhkan, and then..all the blessing, all the prosperity, all the money will follow you.

Aku tidak pernah menemukan ada seseorang yang mengerjakan “work” nya yang menjadi gembel, gelandangan, luntang-lantung, ga ada duit dll. Semua mereka yang mengerjakan “work” mereka, diberkati Tuhan. Why? Karena mereka mengerjakan apa yang memang Tuhan rancangkan untuk mereka kerjakan. Why? Coz your work is your purpose...and your purpose is something that you are born to do.

So kalau kalian ingin menjadi Godly Man, find your work dan kerjakan your “work”. If God’s plan is you become a doctor, become a doctor then. If His design was you to become a businessman, then be a businessman. And to do your “work” membutuhkan keberanian. Membutuhkan ketekunan, membutuhkan pengorbanan, karena akan ada banyak orang yang akan menentang dan akan menghalangi engkau.

That’s why David said to Salomon before he died, “So be strong, show yourself a man, be a man..!!“ Dibutuhkan kekuatan, keberanian untuk menjadi seorang pria. Kekuatan, keberanian untuk bisa merealisasikan setiap mimpi, visi, benih yang Tuhan taruhkan dalam hidup kita. Be a man, be a Godly Man..!! 

Aku harap ini akan memberkati teman-teman.. Dan ini baru part 1 teman-teman. Aku akan lanjutkan lagi beberapa point lagi di part 2 nya.

by
Strongeagle
“See you at the finish line..!”

PS: Jika kalian merasa di berkati dan mau meng-copy paste notes ini, silahkan2 saja, tp tolong di tulis siapa penulisnya, (Strongegale "morris" Generation) dan tolong aku di tag juga di notes kalian itu, sehingga aku bisa tau reaksi org2 sebagai bahan masukan buat ku.. Dan jika ada pertanyaan, silahkan lgsg di comment atau di message ke fb ku..
GBU


... Akupun pernah terjebak dengan impianku tentang Godly Man... Melihat kesempurnaan dalam sosok seorang laki-laki dan kemudian mulai kecewa karena satu persatu terlihat ketidak sempurnaan yang ada... akupun belajar bahwa Bapa merancang kehidupan pria dan wanita sangat istimewa dengan visi dan tujuan yang jelas... dan kesempurnaan itu tampak ketika seorang laki-laki tahu tujuan dan visinya ada di dunia...
Find ur purpose
_angie maurene_

Jumat, 06 Januari 2012

MOVING UP PRINCIPLE: BENCILAH ORANG TUA MU

Copy dari note fb morris, adik share yang membawaku mengubah beberapa cara pikirku... 
gak ada yang aku ubah dari tulisannya, hanya akan aku tambahkan komentarku di akhir tulisannya


“Ha?? Membenci orang tua?? Ga salah ni judul?”


Tenang..ga salah kok judulnya dan teman-teman ga salah baca juga. Kontroversial kan? Hahaha.. jangan kaget..di tahun 2012 ini akan ada banyak hal yang kontroversial yang akan aku kerjakan dan keluarkan, dan itu dimulai dari notes ini.  :) 

Ini judul yang aku tulis dengan sadar, tanpa paksaan dan tanpa di bawah tekanan siapapun. Jangan teman-teman membayangkan aku sedang diculik seseorang, yang kecewa dan benci terhadap orang tuanya dan dia menodongkan senjata di kepalaku dan memaksa ku menuliskan notes dengan judul seperti itu..hehehe (*terlalu banyak nonton film action)

Atau mungkin juga ada yang berpikiran “wah..Morris udah sesat ni sekarang..” atau “ga benar ni pasti isi notesnya” Tenang-tenang. Melalui notes-notes ku di tahun 2012 ini, aku ingin mengajak teman-teman juga memiliki pola pikir yang berbeda dari tahun 2011 yang lalu. Aku ingin teman-teman juga ikut aktif dalam mempelajari prinsip-prinsip kehidupan ini. Aku juga ingin teman-teman memiliki open mind, di mana kita terbuka untuk sesuatu perubahan pola pikir, dogma, istilah dan banyak hal lainnya.

So, sebagai anak muda, kita harus bisa menelaah, mengkritisi, menganalisa setiap prinsip, setiap masukan, setiap pola pikir yang masuk dalam kehidupan kita, karena prinsip-prinsip itulah yang nantinya akan membawa kita ke jalan kesuksesan atau ke jalan kebinasaan.

Nah, Kali ini aku ingin melanjutkan seri notes ku yang mengambil tema “Moving Up Principle”. Kali ini kita akan belajar tentang suatu prinsip yang luar biasa. Suatu prinsip yang jarang dibicarakan, jarang di bahas, jarang kita dengar, namun ini telah menjadi permasalahan yang sangat mendasar di generasi kita.

Prinsip kali ini terinspirasi oleh seorang Guru yang hebat, Nabi yang luar biasa, seorang inspirator, seorang world changer, yang pernah hidup di bumi ini. Dia bernama Yesus. Well, kita semua pasti tahu tentang Dia, dan siapa Dia. Kali ini aku ingin mengambil salah satu prinsip yang terinspirasi dari suatu kejadian yang juga kontroversial pada jaman Yesus masih di bumi.

Nah, mari kita coba lihat suatu kalimat di dalam buku manual kita, yang menuliskan begini,

"Jikalau seseorang datang kepadaku dan IA TIDAK MEMBENCI ayahnya, ibunya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridku".

Nah..have you ever red that verse? Pernah teman-teman baca tentang ayat tersebut? Yesus adalah seseorang yang paling kontroversial di muka bumi ini. Tidak hanya Dia menembus batasan-batasan tradisi, keyakinan, pola pikir, dan dogma, namun juga Dia kontroversial karena perkataan yang perbuatan yang Dia lakukan. Kita akan membahas salah satu perkataannya yang kontroversial ini, yang menginspirasi ku menuliskan notes ini.

Nah, kalau kita membaca sepenggal ayat tersebut, maka kita akan menemukan bahwa Yesus adalah seorang yang plin-plan. Why? Di satu sisi Dia mengajarkan untuk menghormati orang tua, namun di sisi lain, Dia malah mengajarkan untuk membenci orang tua. Kalau kita membaca sepenggal ayat tersebut, maka kita bisa saja berpikiran bahwa Yesus tidak konsisten dengan ajaranNya. Di satu sisi Dia mengajarkan tentang kasih, namun di sisi lain, Dia malah mengajarkan untuk membenci orang tua dan saudara.

Well, apakah itu benar? Mari kita coba pelajari lebih dalam, tentang prinsip apa yang bisa kita ambil dari ayat ini. Ketika kita membaca kalimat tersebut, langsung fokus dan perhatian pertama kita tertuju pada kata “MEMBENCI”!! Kita langsung merasa bahwa ada yang salah dengan perkataan tersebut. Kita langsung berargumen panjang lebar tentang masalah “BENCI” tersebut. Nah, padahal, pokok permasalahannya bukanlah di kata “BENCI” nya, namun di kata “MURID”. Ini adalah sesuatu yang lepas dari pengamatan kita.

Ketika kita mendengar kata “MURID”, jangan pemikiran kita langsung tentang murid sekolahan, atau siswa SMA atau Mahasiswa Kuliahan. Kata Murid dalam konteks tersebut sangat berbeda dengan konteks murid pada zaman sekarang ini. Bahkan, kata Murid dalam konteks kaliamat tersebut bukanlah “STUDENT” melainkan “DISCIPLE”.

Nah, pada jaman dahulu, jabatan seorang Rabi, atau Guru adalah jabatan tertinggi dalam kehidupan masyarakat Yahudi. Guru melebihi seorang pengusaha kaya bahkan kaisar sekalipun. Guru kalau datang ke suatu pesta, pasti duduk di paling depan, dekat dengan para pembesar. Intinya guru atau pengajar itu sangat diagungkan, dan jaman dulu murid itu tidak seperti zaman sekarang yang sekolah pagi, pulang sore. Dulu menjadi murid itu adalah meninggalkan keluarganya untuk benar-benar hidup, makan, tidur, berjalan, duduk, bersama-sama dengan gurunya selama masa pembelajaran sampai dia lulus. Seorang murid juga adalah seorang yang tidak hanya menerima pandangan gurunya, tetapi dia juga mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-harinya ketika dia bersama dengan gurunya.

Pada zaman dulu juga, seorang muridlah yang mencari guru, dan tidak semua calon murid diterima oleh sang guru. Guru tersebut akan melakukan serangkaian tes untuk melihat apakah calon murid ini benar-benar layak untuk menjadi muridnya, mewarisi ajarannya. Namun ketika semua guru menunggu untuk di datangi murid, Yesus justru melakukan sebaliknya. Dia yang mencari murid dan memilih murid-murid dari golongan tidak terpelajar. Maka tidak heran ketika pada saat Yesus memanggil Simon Petrus menjadi muridNya, tanpa ba-bi-bu, dia langsung mengikut Yesus. Tanpa ngomong ama ortunya, tanpa ijin ama ortunya, tanpa konsultasi dulu, dengan segera dia langsung meninggalkan perahunya, jalanya, bahkan orang tuanya.

Di sini baru kita masuk pada pengertian kata “MEMBENCI” dalam konteks persitiwa ini.
Harus kita pahami bahwa kata “membenci” pada kalimat tersebut diterjemahkan dari kata μισει ‘misÄ«’ yang punya makna leksikal “kurang peduli” atau “kurang mencintai”. Makna benci dalam kalimat tersebut bukanlah makna seperti yang kita kenal dalam keseharian, melainkan dalam makna relatif kurang mencintai atau relatif kurang peduli. Dengan mengerti makna ini, maka kita akan memahami dengan jelas alasan mengapa Yesus mengatakan hal tersebut. Kita juga jadi mengerti tindakan Simon Petrus meninggalkan keluarga dan orang tuanya demi mengikut Yesus. Apakah artinya Petrus anak yang durhaka? Apakah artinya dia tidak menghormati orang tuanya? Tidak.. Namun dia mengerti mana yang harus dia lebih prioritaskan.

Apa yang ditekankan dalam ayat tersebut kepada kita? Sederhana tapi juga vital, Yesus menekankan dalam hidup ini harus punya SKALA PRIORITAS, VISI yang jernih mengenai apa yang harus kita nomor satukan, dan apa yang boleh kita nomorduakan. Memiliki pemahaman yang benar mengenai apa yang SENTRAL, dan apa yang PERIFERAL, yang PRIMER dan yang SEKUNDER.

Nah, dari pemahaman ini, maka kita menarik suatu prinsip yang luar biasa bahwa terkadang ada sesuatu yang harus kita korbankan, kita tinggalkan untuk menuju kepada sesuatu yang lebih besar, lebih baik, lebih bernilai. Mengapa Yesus mengambil cth ttg ayah, ibu, keluarga, sanak saudara? Karena terkadang yang terdekat dengan kita, itulah yang menjadi “penghalang” kita untuk mengambil keputusan menuju yang lebih besar dan lebih baik. Orang terdekat kita adalah orang-orang yang paling sulit untuk kita lepaskan, kita tinggalkan untuk mengejar sesuatu yang lebih besar.

Biasanya, ini yang menjadi persoalan di anak muda jaman sekarang. Persoalan di masa sekarang adalah adanya gap yang cukup besar antara generasi muda dengan generasi tua. Generasi muda menganggap generasi tua tidak pernah mengerti mereka, sedangkan generasi tua menganggap generasi muda tidak mau lagi diatur oleh mereka. Masing-masing bersikeras dengan pendapat dan opininya masing-masing.

Aku akan mengambil beberapa contoh yang sering terjadi di saat ini dan juga hasil beberapa orang yang berkonsultasi dengan ku ttg masalah ini. Kita tahu bahwa setiap orang tua, pada dasarnya menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Bahkan setiap orang tua memiliki harapan, bayangan, mimpi bahkan visi tentang bagaimana anaknya kelak. Itu tidak salah, bahkan sangat wajar.

Sangat wajar hal tersebut dilakukan oleh orang tua kita, karena mereka sudah mendidik kita dari kecil, merawat kita, membesarkan kita, menyekolahkan kita. Wajar kalau mereka punya harapan dan impian tentang bagaimana kita nantinya. Namun yang menjadi masalah adalah ketika semua mimpi, bayangan, harapan yang dibangun orang tua tersebut, mulai dipaksakan kepada si anak. Bahkan ada banyak orang tua yang mulai memaksakan impiannya sendiri kepada anaknya.

Sebagai contoh, ada salah satu temanku yang sebenarnya tidak pingin kuliah di jurusan kedokteran. Namun karena bapaknya dulu pingin banget jadi dokter, namun gagal. Bapaknya tetap menyimpan impian itu dan bahkan menginginkan anaknyalah yang nantinya akan mewujudkan impian bapaknya tersebut. Padahal di sisi lain, sang anak punya impian lain.
Contoh lainnya adalah ada orang tua yang kekeh, dan sangat ingin anaknya untuk menjadi PNS. Bisa dimaklumi mengapa orang tuanya seperti itu. Mereka ingin masa depan dan kehidupan anaknya terjamin, masa depannya terjamin, dapet tunjangan-tunjangan, terus juga dapet pensiunan. Di sisi lain, sang anak tidak ingin menjadi PNS, dan ingin menjadi pengusaha. Dia tahu bahwa menjadi PNS bukanlah panggilannya. Dia tau bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, PNS bukanlah jalannya. Namun ketika dia menyampaikan niatnya, orang tuanya langsung melarang dan tetap mau anaknya jadi PNS.

Contoh lain yang terjadi adalah seorang anak yang sangat ingin menjadi penyanyi profesional. Karena tuntutan orang tuanya, maka dia menyelesaikan S1 nya di jurusan ekonomi. Orang tuanya sangat ingin anaknya menjadi pekerja kantoran dan memiliki karier yang bagus, dapat gaji setiap bulannya, bisa dapet fasilitas kantor dll. Di sisi lain, sang anak tahu bahwa talentanya adalah bernyanyi. Sang anak mengetahui bahwa passion dan jiwanya adalah di nyanyian dan bukan sebagai pegawai kantoran.

Dia memiliki impian untuk menjadi penyanyi profesional, dan setiap kali dia ikut audisi, selalu menang. Namun ketika ia menyampaikan niatannya, mimpinya kepada orang tuanya, mereka menolaknya dan langsung mematahkan semangatnya dengan mengatakan tidak ada jaminan kesusksesan hanya dengan bernyanyi.

Ada banyak contoh-contoh kasus lainnya yang kita lihat disekeliling kita, bahkan mungkin kita alami sendiri. So, bagaimana solusinya? Kita harus seperti apa sebagai anak? Kalau kita melawan dan tetap kekeh dengan impian kita, kok sepertinya kita jadi anak durhaka yang tidak menghormati orang tua. Kok sepertinya kita tidak menghargai setiap pengorbanan mereka? Namun kalau kita menuruti impian mereka, kita tahu bahwa itu sama sekali bukan panggilan kita. Kita tahu bahwa hati kecil kita menolaknya. Apa yang harus kita lakukan?

Untuk menjawabnya, kita harus mengerti lebih dahulu bahwa kita dilahirkan di dunia ini bukanlah kebetulan. Kita dilahirkan untuk suatu tujuan, suatu misi yang harus kita kerjalan dan selesaikan. Kita tau bahwa pada dasarnya kita hadir di dunia sebagai problem solver bagi dunia ini. Kita harus memahami bahwa kita lahir karena ada suatu permasalahan spesifik yang harus kita dan hanya kita yang dapat menyelesaikannya. That’s why sangat penting untuk tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, panggilan kita, impian kita.

Setelah kita tahu, sangat mungkin tujuan tersebut, impian tersebut sangat jauh berbeda dengan apa yang diinginkan, diharapkan dan diimpikan oleh orang tua kita seperti contoh-contoh di atas.

Nah, di saat kondisi seperti inilah, kalimat Yesus tadi menjadi prinsip yang luar biasa untuk dapat kita terapkan. “MEMBENCI” orang tua kita.

Yesus mengatakan untuk “membenci” orang tua kita demi sesuatu yang Ilahi yang Tuhan tetapkan di dalam hidup kita. Dia mau kita rela meninggalkan sesuatu yang menghambat kita dalam memenuhi panggilan kita yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidup kita. Dia ingin kita mengambil tindakan tegas, memilih antara mengasihi Tuhan, dengan cara memenuhi panggilannya di dalam kita atau kita lebih memilih orang tua kita yang memiliki mimpi berdasarkan impiannya sendiri dan tidak sesuai dengan apa yang telah Tuhan taruhkan di dalam kita.

Aku tidak mengatakan bahwa setiap impian orang tua yang bertentangan dengan impian kita itu salah. Aku juga tidak mengatakan bahwa kita harus langsung melawan orang tua kita. Bukan itu. Namun ketika kita tahu pasti, apa yang menjadi panggilan kita, tujuan kita, passion kita, impian kita, maka kita harus dengan tegas untuk memilih.

Beberapa waktu yang lalu, aku menonton film Billionaire, dan di film itupun org tuanya menentang dia untuk membuka usaha. Orang tuanya punya impian dia menyelesaikan sekolah dan kuliahnya dan bekerja kantoran seperti kakaknya. Namun dia punya mimpi besar, dia punya impian untuk jadi pengusaha dan bisa melunasi utang keluarganya yang sangat besar. So dia “melawan” nasehat dan “membenci” orang tuanya, dan akhirnya menjadi pengusaha muda yang kaya raya dan akhirnya bisa membantu orang tuanya melunasi hutangnya yang sangat besar itu. So, apakah anak tersebut adalah anak durhaka? Apakah anak tersebut tidak menghormati dan tidak mengasihi orang tuanya?

Beberapa bulan lalu aku juga menyaksikan sebuah kesaksian seorang pengusaha laundry yang menghasilkan omset 1 milliar per bulan hanya dari bisnis laundrynya yang tersebar di seluruh Indonesia. Dia mengisahkan bahwa pada awalnya orang tuanya menentang habis-habisan niatnya untuk menjadi pengusaha. Orang tuanya ingin dia jadi PNS. Bahkan dia lulus di terima menjadi PNS di suatu departemen pemerintahan. Namun yang dia lakukan adalah tidak datang untuk mengurus kelulusannya, dan memilih untuk “melawan” & “membenci” orang tuanya, dan tetap memilih menjadi pengusaha, dan akhirnya sukses dan bisa membantu perekonomian keluarganya. So, apakah dia adalah anak yang durhaka? Apakah dia adalah anak yang tidak menghormati orang tuanya? Coba bayangkan seandainya dia tidak mengambil langkah untuk “melawan” orang tuanya dan tidak memperjuangkan impian dan juga visinya.

Ini yang disebut dengan “membenci” dan memilih untuk mengambil sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang Ilahi. Masing-masing kita, Tuhan taruhkan visi, impian, passion yang berbeda-beda. Masing-masing kita ditaruhkan talenta yang berbeda-beda. Temukan itu dan perjuangkan.

“Membenci” artinya kita memprioritaskan tujuan yang sudah Tuhan taruhkan dalam hidup kita dibanding keluarga kita.
“Membenci” artinya kita mengorbankan opini, pendapat, impian orang-orang terdekat kita untuk menjalani sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang lebih baik.
“Membenci” artinya memperjuangkan setiap visi dan impian yang Tuhan taruhkan di dalam kita untuk kita realisasikan.

Tentunya tidak kita langsung marah-marah dengan orang tua kita dan kabur dari rumah, dll. Tentunya kita tidak dengan kasar bilang bahwa impian mereka salah. So, harus gmn? Ada beberapa tips singkat yang bisa aku berikan..

Pertama-tama sampaikan dengan baik-baik impian kita, sampaikan dengan baik-baik visi kita
Kedua, kalau mungkin bertentangan dengan keinginan orang tua, coba cari tau mengapa mereka memiliki impian seperti itu. Apa alasan mereka. Coba pahami mereka.
Ketiga, ketika kalian sudh menemukan alasannya, coba kemukakan alasan kalian mengapa kalian memilih jalan yang berbeda dari yang diinginkan orang tua. Cari penyelesaiannya.
Keempat, jika mereka tetep kekeh dengan pendirian mereka, dan di sisi laian kalian sangat yakin akan panggilan kalian dan siap dengan resikonya, maka itu adalah saat yang tepat untuk “membenci” orang tua kalian dan tetap mengambil langkah yang kalian tuju. Namun tetap bersikap hormat dan menghargai orang tua kita.

Tentunya memang tidak semudah yang dituliskan, namun itu yang aku juga lakukan. Aku sudah mengalaminya dan berhasil mewujudkan impian yang Tuhan taruhkan dalam hidupku. Oleh karena itu, aku juga ingin teman-teman yang mengalami hal yang sama juga menemukan jalan keluar.

Oleh karena itu, di bulan Juli 2012 nanti, aku akan mengadakan seminar khusus tentang bagaimana mengatasi gap ini. Seminar ini akan diisi oleh aku sendiri dan para pakar di bidangnya yang akan membantu teman-teman menemukan jalan keluarnya. So, nantikan dan doakan ya.. :)

Aku ingin teman-teman bisa menemukan cara bagaimana mengatasi gap ini. Aku ingin kalian tetap menjalani impian Ilahi yang Tuhan taruhkan dalam hidup kalian tanpa harus bermusuhan dengan orang tua kalian.

Untuk para orang tua, aku mewakili anak muda, ingin memberikan suatu pandangan bahwa kami juga memiliki impian, kami juga memiliki passion yang Tuhan taruhkan dalam hidup dan hati kami. Ketika kami mengikuti impian orang tua yang kami tahu bertentangan dengan hati kecil kami, passion kami, kami tetap akan diberkati Tuhan, namun kami tidak mencapi tujuan kami di dalam hidup. Kami tidak menjalani hidup kami dengan maksimal. Kami “gagal” menyelesaikan tugas yang Tuhan taruhkan.

Bukanlah alangkah indahnya, ketika kami menjalani impian Ilahi kami, ketika kami menempuh visi kami, passion kami, kami juga mendapat restu dan berkat dari para orang tua. Bantulah kami mengarahkan, menemukan, mendalami dan menjalani setiap impian yang Tuhan taruhkan dalam hidup kami, dan bukan memaksakan impian yang sudah disediakan oleh para orang tua kepada kami.  

Aku harap sedikit dari apa yang aku bagikan ini memberkati teman-teman. Memberikn encourage dan juga memotivasi teman-teman. Mengubah pola pikir teman-teman.

by
Strongeagle
“See you at the finish line..!”

PS: Jika kalian merasa di berkati dan mau meng-copy paste notes ini, silahkan2 saja, tp tolong di tulis siapa penulisnya, (Strongegale "morris" Generation) dan tolong aku di tag juga di notes kalian itu, sehingga aku bisa tau reaksi org2 sebagai bahan masukan buat ku.. Dan jika ada pertanyaan, silahkan lgsg di comment atau di message ke fb ku..
GBU

Seperti komentar aku ke Morris saat pertama kali note ini di share padaku... Menggebrak batas-batas yang ada... well, satu kisah yang jarang aku share yaitu saat pertama kali aku selesai menjadi dokter... berada pada keinginan sendiri dengan idealisme seorang dokter muda yang ingin mengabdikan ilmunya berhadapan dengan rancangan orang tua terhadap anak yang dibanggakan mereka... aku ingin menjalani masa PTT sedangkan orang tuaku menginginkan untuk tes CPNS dosen... aku gak ingin dicap pembangkang selesai sekolah dan mengecewakan orang tuaku, disisi lain aku ingin mewujudkan apa yang aku impikan sejak masa sekolahku... aku menyetujui keinginan mereka untuk tes CPNS tapi aku pegang backup dengan curhat sama Bapa, kalau memang bukan disana jalanku biar Bapa yang bertindak... terlihat mengalah tapi berharap untuk sebuah kemenangan... dan kalau melihat perjalananku saat ini, 5 tahun sesudahnya, kalian bisa tahu apa yang terjadi... Bapa membawaku melihat daerah-daerah baru... Bapa membawaku berpetualang dengan jiwa idealisku... 
Ketika Kesempatan bertemu Perkenanan... with VSO United Kingdom

 

TIME LINE : SoE

Tahun 2008 aku sempat merasakan 6 bulan penuh kisah di salah satu pulau paling selatan di Indonesia... Bekerja sebagai dokter PTT di RSUD SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan, merasakan kehidupan dan kebudayaan yang jauh berbeda dengan daerah asalku... bekerja dengan orang-orang hebat yang mencintai tempat itu... tempat dimana mujizat air menjadi anggur, orang mati dibangkitkan terjadi di kota SoE...

Aku tunjukkan beberapa foto ketika aku bertugas 6 bulan di pulau Timor

Depan RSUD SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan

dr Acel, dr. Ekha, dr. Angel, dr. Cici
the mist taken from my home
Jembatan Noe Mina.... Penghubung SoE dan Kupang
Kompleks Rumah Dinas... Mist all the day...

RM Nelayan Kupang
Desa Billa Oeekam
With Jeffry Tjandra, Concert in SoE
Twilight at Fatumnasi

Fatumnasi
Lasiana Beach Kupang

Silluette
Hutan wisata Buat
Mancing Mania...

Our Team
Next : foto-foto ketika tugas

Minggu, 01 Januari 2012

Welcome 2012 The Year of HOPE



Akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 adalah my quality time with my almighty Father, sesuatu yang sering kulakukan dulu... karena aku tak melakukan itu dalam 2 tahun terakhir... 2009 aku menghabiskan hari terakhir di tahun ini dengan mempersiapkan acara old and new bagian bedah... as a new comer resident ini event-event awal dari 6 bulan masa s-0 dan berlanjut dengan jaga di IRDB, sesuatu yang untuk kedua kalinya ku jalani setelah masa coschap 2006... 2010 aku menghabiskan hari terakhir dengan jaga di IRDB, untuk kedua kalinya sepanjang 1 tahun masa residenku dan untuk ketiga kalinya dalam 5 tahun terakhir... dan akhirnya aku bisa merasakan malam natal, natal, malam tahun baru, dan hari pertama di tahun 2012 bersama dengan keluarga besarku...

2012 ada banyak harapan yang aku taruhkan kepada Bapa... impian-impianku, studiku, masa depanku... semuanya kuceritakan pada Bapa... Ada semangat baru ketika mendengar 2012, fase bedah dasarku telah selesai... dan dimulailah 2 tahun fase bedah lanjut 1... another step in my life...

2012 dalam masa pendidikanku... ada 6 stase yang harus kulalui di tahun ini, ada trigonum dan ujian OSCA, fase "terberat" selain ujian kognitif yang harus kulalui, ada national case report (choose one Bogor or Bali), ada DSTC... dan mungkin dimulailah petualangan stase luar kota...

2012 adalah tahun dimana aku menantikan jawaban Bapa tentang my future family, my future husband... belajar relatioship yang sebenarnya, hubungan yang menyenangkan hati Bapa...

2012 adalah tahun memperbaiki kualitas hubunganku dengan Bapa, dengan sesamaku, dengan pelayananku...

2012 is the year of HOPE...